fbpx

Prasangka Baik kepada Allah SWT untuk Menghilangkan Kekhawatiran Tentang Masa Depan

Sumber gambar: greepx.com

Seberapa seringkah kita khawatir soal masa depan? Bagaimana sebaiknya kita menyikapi takdir yang akan kita hadapi dimasa yang akan datang? Mari kita simak kisah nyata dari orang sholeh berikut ini untuk diambil pelajaran bagi kehidupan kita.

Al Mansur Saifuddin Qolawun adalah seorang sultan dari Daulah yang ada di Mesir. Jauh sebelum menjadi sultan, ada perjalan hidup yang sangat berharga antara beliau dengan ayahandanya.

Ayah Qolawun merupakan seorang budak di negeri Bagdad pada suatu masa. Ketika menjadi budak, sang ayah ini sangat rajin bekerja meskipun di hari jumat, dimana hari itu adalah hari libur bagi para budak. Ia rajin bekerja bekerja agar bisa mengumpulkan uang untuk menembus dirinya kepada tuannya. Setelah uangnya cukup terkumpul, kemudian ia menghadap tuannya: “Tuan, Saya sudah punya uang sekian banyak, apakah Tuan berkenan mengambil uang itu dengan imbalan bisa membebaskan Saya?”. Tuannya menjawab: “Masya Allah, Kamu ingin membebaskan dirimu dengan harga ini. Kamu bayar saja separuh, sisanya uangmu ini Kamu pakai untuk modal hidupmu.”

Singkat cerita, sang ayah melanjutkan hidupnya dan menikah, kemudian istrinya pun mengandung dan memiliki anak yang diberi nama Qolawun. Selepas istrinya tuntas menyusui anaknya, sang istri sakit, kemudian meninggal. Maka Qolawun ini dibesarkan oleh ayahnya sendiri dengan penuh kasih sayang.

Suatu hari si ayah berkata kepada anaknya: “Nak, menjadi manusia merdeka itu adalah impian ayahmu sejak dulu. Ayahmu ini tidak ingin menjadi budak. Hidup sebagai budak, berarti kita ini hanya separuh manusia. Maka jadilah kita manusia yang merdeka. Manusia yang paling merdeka adalah manusia yang bisa memilih, bahkan memilih bagaimana caranya dia akan mati dengan mempersembahkan nyawanya untuk Allah SWT. Maka orang yang mati terbaik itu adalah mati yang paling merdeka, tanpa perlu melewati yaumul hisab dan timbang-timbang oleh Allah. Mereka adalah orang-orang yang mati syahid sebagai orang yang gugur berjuang dijalan Allah.  Maka Nak, ayo kita ke pasar.”

“Mau apa, Ayah?”, si anak bertanya.

“Kita akan membeli kuda terbaik, agar ketika nanti berjuang di jalan Allah, kita berjuang dengan kuda terbaik, mempersembahkan hidup kita kepada Allah SWT.”

Kemudian mereka pun membeli kuda yang mahal, karena kuda terbaik itu harganya memang mahal. Setelah itu si ayah dan anak ini pulang sambil membawa kudanya, dan mereka pun mendapatkan cibiran dari para tetangganya.

“Eh, tidak tahu diri ya, orang miskin kok beli kuda.”

“ Waduh, itu pasti menghabiskan banyak uang tabungan. Memang mau dipelihara dimana kudanya?”

Begitulah terjadi cibiran dimana-mana.

“Nak, sabar ya. Jangan ikuti apa kata orang, kecuali selama yang engkau cari adalah ridhonya Allah,” kata si ayah.

Akhirnya kuda itu dipelihara, diberi makan dan minum dengan baik, kadang-kadang si kuda diberikan pijatan. Sepekan kemudian, kandang kudanya jebol. Kudanya pun hilang. Maka para tetangganya lebih hebat lagi dalam mencibir. “Rasain, jangan sok-sok an.. orang miskin kok beli kuda. Sekarang kudanya lepas dan hilang. Uang tabungan pun sudah habis.”

Maka si ayah berkata kepada si anak: “Nak, kita tidak pernah tahu, tapi takdir Allah itu pasti yang terbaik. Kita tidak tahu ini nikmat atau musibah, yang penting kita berprasangka baik kepada Allah. Kita kumpulkan uang lagi, siapa tahu kita bisa beli kuda lagi.”

Tidak lama kemudian, dalam tiga hari pada suatu pagi, banyak suara ringkik kuda disekitar rumah mereka. Ternyata kudanya yang kemarin lepas itu, pulang dengan membawa teman-temannya dari padang rumput. Akhirnya si ayah dan anak ini menjadi juragan kuda kerena memiliki belasan ekor kuda yang berasal dari padang rumput.

Kembali kuda-kuda tersebut dirawat dengan baik  dan masih tetangga-tetangganya mencibir: “Wah ternyata kudanya kembali, ya.. senang ya kudanya banyak.”

Maka si ayah dan si anak bekata: “Kami tidak tahu ini nikmat atau musibah, yang penting kami berprasangka baik kepada Allah. “

Hari berikutnya si anak latihan naik kuda dengan semangat. Mungkin karena saking senangnya, tidak terasa kudanya terkejut oleh sesuatu, kemudian si anak terlempar jatuh dan kakinya patah. Lalu si anak di bawa kerumah dan dirawat.

Tetangga-tetangganya berkata lagi: “Mending saya tidak punya kuda, daripada punya kuda tapi kakinya patah. Sial betul.”

Kemudian ayahnya berkata kepada anaknya: “Nak, sabar ya Nak. Kita tidak tahu ini nikmat atau musibah, yang penting kita berprasangka baik kepada Allah.”

Hari berikutnya ada rombongan tentara datang ke kampung dimana sang ayah dan anak itu tinggal. Mereka akan merekrut masal kepada setiap pemuda untuk wajib militer ke medan tempur, karena raja hendak berperang dengan raja lain. Ternyata yang berperang antar sultan sesama muslim, maka si ayah berbisik kepada anaknya, “berdoa Nak, mudah-mudahan kita tidak usah terlibat, ini bukan yang kita cita-citakan, ini cuma perang antar sesama muslim yang kemudian kita berperang dengan saudara sendiri. Naudzubillahimindzalik, mudah-mudahan Allah menyelamatkan kita dari fitnah seperti ini.”

Maka petugas inspeksi datang kerumah mereka, “Kenapa ini?” tanya sang prajurit.

“Kakinya patah, Pak prajurit,” jawab si ayah.

Lho, kenapa?”

“Kemarin latihan kuda, terus jatuh dan kakinya patah,” si ayah menjelaskan.

“Kalau begitu tidak usah ikut jadi tentara kami,” kata si prajurit.

“Baik, tidak apa-apa Pak, mudah-mudahan, anak ini segera sembuh ya, Pak,” jelas si ayah.

“Berarti rumah ini saya coret, tidak ada yang saya bawa” (karena sang ayah harus merawat anaknya).

Sementara anak-anak tetangga yang sehat dan gagah, semuanya direkrut oleh pasukan itu untuk ditempatkan digaris depan. Maka tetangga-tetangga datang kerumah itu: “Kamu beruntung ya Nak, untung kakimu patah, jadi kamu tidak kena wajib militer, sedangkan anak-anak kami sehat-sehat, tapi diambil oleh tentara itu. Celaka kami ini.”

Ayah dan si anak berkata: “ Tenang Pak, kita tidak tahu ini nikmat atau musibah, yang penting kita berprasangka baik kepada Allah.”

Bulan berikutnya, ketika si anak bisa berjalan lagi, datang kabar bahwa semua pemuda kampung itu yang ditempatkan ke garis depan perang, semuanya mati. Maka seluruh kampung menangis, kecuali rumah itu. Ayah dan anak ini menghibur para orang tua yang kehilangan anaknya, dan berkata:  “Kita tidak tahu ini nikmat atau musibah, yang penting kita berprasangka baik kepada Allah.”

Saat berikutnya pada tahun 1258 terjadi penyerbuan pasukan Tartar, pasukan mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Pasukan ini melakukan pembantaian, dimana Sungai Tigris berubah warnanya menjadi hitam dan merah. Sungai bewarna hitam karena tinta yang terlepas dari kertas buku-buku yang dilemparkan dari perpusatakaan Bagdad ke dalam sungai, dan bewarna merah karena darah orang-orang muslim yang dibantai oleh pasukan Mongol ketika itu.

Maka saat itulah ayah dan anak tersebut berkomitmen: “Bismillah Nak, sekarang saatnya kita berjuang membela bangsa, membela negara, membela agama. Kita akan berperang, berjihad melawan orang-orang Tar-tar, orang-orang Mongol.”

Sumber gambar: windsorislamicassociation.com

 Maka mereka bergabung dibawah kesatuan Saifuddin al Qutuz yang berperang melawan pasukan Tartar di Ain Jalud. Pasukan muslim mengalami kemenangan, tapi qodralalloh, si ayah gugur dan si anak ditangkap musuh yang kemudian dijual sebagai budak.

Selama dalam perdagangan budak tersebut, akhirnya Qolawun ini dibeli dan menjadi budak dari Sultan Baibars (Baybars) yang ada di negeri Mesir. Karena Qolawun sangat pintar, cerdas, berbakat, dan berjiwa pemimpin, akhirnya dia dibebaskan dari perbudakan dan bahkan  menggantikan Baibars menjadi Sultan Mamluk dengan gelar Al Mansur Syaifuddin Qolawun.

Beginilah kisah ayah dan anak muda yang selalu berprasangka baik kepada Alloh.

Selama berprasangka baik kepada Allah, biasanya hasilnya selalu baik. Apapun yang sedang kita terima dari Allah, maka berprasangka baikilah Alloh.

Oleh sebab itu, agar kita tidak selalu khawatir tentang masa depan, maka sikap yang terbaik yang seharusnya kita ambil adalah:

  1. Berprasangka yang terbaik hanya kepada Allah
  2. Mengikhtiarkan yang terbaik dari Allah
  3. Berdoa dan minta yang terbaik kepada Allah
  4. Bertawakal yang terbaik kepada Allah

Sumber: Khawatir akan Masa Depan – Ustadz Salim A. Fillah (https://www.youtube.com/watch?v=EztPcZbYeI4&t=2776s)

https://www.youtube.com/watch?v=EztPcZbYeI4

Leave a Reply