fbpx

Mempersiapkan Generasi Pemimpin (4)

Oleh karena itu sulit menjadi ‘pola’ jika masyarakat dalam keadaan susah dan sengsara, namun pemimpinannya berpesta pora, sehingga masyarakat menjadi sakit hati.

Harta yang sebenarnya halal, namun dalam ilmu kepemimpinan itu harus sampai dilevel bahwa tidak semua yang halal itu bisa diambil. Apalagi jika harta itu subhat dan haram. Maka didiklah generasi atau calon pemimpin seperti itu (tidak mudah mengambil harta masyarakat/negara).

Bisa jadi harta yang diambil itu halal untuk digunakan, namun kadang menimbulkan masalah ketika posisi Anda menjadi pemimpin.

Sebagai contoh, sahabat Abdurrahman bin Auf yang kaya raya itu aman dari fitnah, dan Ia adalah sahabat yang dicintai, dikagumi, dan dipuja-puja orang. Berbeda dengan sahabat Utsman bin Affan yang memang sudah kaya raya dari dulu, namun setelah menjadi pemimpin, ia difitnah gara-gara harta halalnya sendiri.

Pemimpin dalam islam itu memberi, bukan meminta. Melayani, bukan menyusahkan.

Jika anak kita masih menyusahkan dan menjadi beban orang tuanya, dan belum memiliki sifat suka ‘memberi’, maka ia belum pantas menjadi seorang pemimpin.

Oleh karena itu pemimpin itu selalu memberi dan memberi. Karena memberi itu adalah sebuah kenikmatan, seperti halnya yang dirasakan oleh para dermawan. Sehingga pemimpin itu menjadi teladan.

Maka pelajarilah sejarah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pada saat berada Mekah sebelum kaum muslimin memiliki negara (berkuasaan penuh) di Madinah.

Pada saat di Mekah selama 13 tahun, Nabi SAW dan para sahabat berada dibawah kekuasaan musyrik Quraisy. Semua yang terjadi selama di Mekah pada saat itu adalah proses Alloh dan Rosulnya dalam rangka menyiapkan dan melahirkan para pemimpin dikalangan sahabat untuk memimpin sebuah negeri di Madinah.  

Dakwah Rasul diawali dengan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun yang kemudian dilanjutkan dengan dakwah secara terbuka sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Alloh SWT.

Saat itu sahabat mulai diimintidasi dan disiksa oleh masyarakat musyrik Quraisy pada tahun 4-5 kenabian. Kemudian Rosul SAW menjadikan rumah  Arqam Bin Abil Arqam sebagai pusat pertemuan untuk membicarakan segala hal (menyampaikan wahyu, mengajar, dan mengevaluasi) dengan para sahabat.

Sahabat Arqam Bin Abil Arqam saat itu belum genap berumur 20 tahun, namun ia mampu dengan hebatnya mengkondisikan rumah sehingga sangat terjaga dengan baik. Hal ini terbukti sampai Nabi SAW hijrah ke Madinah, rumah tersebut tidak diketahui masyarakat musyrik Quraisy sebagai pusat pertemuan Nabi SAW dengan para sahabat.

Pada kisah Abu Dzar Alghifari akan masuk islam, sebagai orang asing yang datang ke Mekah untuk mencari tahu tentang adanya nabi yang diutus, maka Ali bin Abu Tholib yang saat itu diperkirakan berumur 15 tahun (jika saat ini setara dengan anak SMP/SMA) berusaha menjamu Abu Dzar selama tiga hari. Menurut para ahli sejarah, hal tersebut dilakukan Ali untuk memastikan bahwa orang ini ‘aman’ untuk bertemu Nabi SAW. Inilah kemampuan luar biasa dari anak muda dengan kesadaran intelegen yang tinggi, berusaha memastikan keamanan dalam dakwah & keamanan pemimpinannya (Nabi SAW).

Sahabat Ammar bin Yasir yang tidak kuat menyaksikan bapak dan ibunya yang disiksa di depan dia, sampai ibunya meninggal ditombak dikemaluannya dengan cara yang tidak manusiawi. Namun, dengan proses itulah yang menjadikan Ammar bin Yasir menjadi pemimpin besar di kota Kuffah pada zaman Khalifah Umar.

Sahabat Bilal diarak keliling kampung dan ditindih batu besar di atas tubuhnya di padang pasir yang semua orang tahu bagaimana panas teriknya saat itu. Bilal tetap bertahan meskipun diperintahkan untuk murtad dan tetap berkata, ‘ahad.’

***

Semua proses yang dialami para sahabat diatas adalah proses yang memang menyakitkan untuk menjadikan mereka seorang pemimpin, sehingga menghasilkan jiwa-jiwa yang tertempa dan kokoh.

Menjadi pemimpin itu diperlukan belajar kata sabar, memiliki hati yang lapang, tidak gampang marah, tidak mudah tersinggung, mudah memaafkan pada siapa yang dipimpinnya, memohon ampun kepada Alloh, dan memusyawarahkan segala urusan.

Mari kita didik generasi kita untuk menjadi pemimpin yang benar sebagaimana cara Rosul SAW mendidik para sahabatnya.


Sumber: Menyiapkan Generasi Pemimpin oleh Ustadz Budi Ashari, LC

(https://www.youtube.com/watch?v=HXO-TyDOJck)

Leave a Reply