fbpx

Mempersiapkan Generasi Pemimpin (3)

Rata – rata umur mereka (Mus’ab bin Umair, As’ad bin Zurarah, Usaid bin Hudair, dan Sa’ad bin Muadz ) sekitar 30 tahun saat mengislamkan Madinah. Empat orang yang mampu membuat ibu kota umat islam.

Dengan kemampuan yang luar biasa tersebut, bagimana mereka dilahirkan?

Jangan sampai kita salah mendidik generasi kita. Didiklah dengan urutan pendidikan nubuwah (pendidikan Nabi SAW).

Sumber gambar: quranquotes.info

Bicara soal kepemimpinan itu dimulai dari doa kita di rumah tangga kita:

“Ya Tuhan kami, anugerahlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),  dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al Furqon: 74)

Mari kita bahas kata mengenai kata ‘Imamah’.

Pertama, imamah adalah kepemimpinan dalam urusan agama.

Para ahli tafsir mengatakan, imamahtuddien disebutkan sebagai  kepemimpinan dalam urusan agama. Mengapa dikatakan demikian? karena  ujungnya nanti memimpin masyarakat.

Rosulluloh SAW  mengatakan bahwa masyarakat Bani Israil saat itu dipimpin ‘siasah’nya (terjemahan hari ini yang terdekat adalah politik) itu ditangan para nabi mereka.  Oleh karena itu, immamahtuddien akan membawa kepada kepemimpinan kepada masyarakat.

Tapi jika ingin sesuai dengan doa kita ini, maka ajarilah anak-anak dengan mulai dari menjadikan mereka seperti imam dalam urusan ad-dien (agama), jangan imam dalam urusan ad-dunya (dunia). Pahami bahwa ad-dien dulu baru yang kedua adalah ad-dunya.

Sebuah kesalahan fatal adalah dalam proses mendidik menjadi pemimpin adalah, ketika anak-anak kita sudah punya ilmu apa saja, memiliki pengalaman luar biasa, dan menguasai berbagai bahasa asing, tapi baca alQurannya belum benar, sholatnya masih berantakan, maupun wudhu belum benar. Dengan demikian, proses pendidikan calon pemimpin seperti itu adalah salah. Maka mulailah proses pendidikan yang benar dengan immamahtuddien untuk melahirkan pemimpin yang benar.

Apa yang kita alami hari ini jangan sampai diulangi dengan hal yang sama kepada generasi kita. Misal kita saat ini sudah bekerja, kemudian menghasilkan uang dan bahkan menghasilkan uang yang melimpah, namun ternyata uang tersebut diperoleh dengan cara haram atau subhat, karena kita belum cukup ilmu (islam)nya tapi sudah menjalankannya.

Padahal kita tahu bahwa ‘ilmu sebelum amal’.

Jangan sampai anak kita mengalami hal yang sama yang seperti kita lakukan. Cukup apa yang kita alami hari ini sebagai ‘kecelakaan masa lalu’. Jangan sampai melangkah karena  tidak tahu ilmu soal ‘halal dan haram’. Oleh sebab itu, didiklah anak-anak kita sampai pada level standar sesuai ukuran para ulama, karena ada ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain. Contohnya adalah mengilmui halal-haram dipekerjaan kita. Pengusaha harus tahu ilmu halal-haramnya.  Arsitek harus tahu halal-haramnya. Seorang ahli kesehatan harus tahu halal-haramnya didunianya. Seorang guru harus tahu halal-haramnya didunianya. Itulah ilmu fardhu ‘ain.

Kenyataannya, belakangan banyak hal-hal yang ternyata kita baru mengetahui  bahwa hal tersebut haram, karena kita belajar dengan kurikulum yang terbalik, yaitu mempelajari ilmu dunia dulu baru kemudian ilmu agama. Sehingga kehidupan yang dialami kita maupun muslim hari ini menjadi susah dan sengsara.   

Jika muslim minoritas kebanyakan berada  di negeri lain, mereka hidup dalam keadaan sengsara, mereka disiksa, diusir, dan bahkan sampai dibakar kampungnya. Sebaliknya hal itu tidak terjadi pada masyarakat minoritas yang hidup dalam kekuasaan masyarakat mayoritas muslim seperti di negeri ini. Kaum minoritas dipersilahkan hidup dan beribadah dengan nyaman, dan hidup berdampingan dengan kaum mayoritas, karena Rosulluloh SAW yang mengajarkan demikian. Bahkan saat itu Rosul ketika di Madinah paling siap hidup berdampingan dengan Yahudi, padahal Nabi tahu bahwa masyarakat Yahudi itu adalah masyarakat paling nakal, masyarakat yang mudah mengingkari perjanjian.

Oleh karena itu, didiklah anak-anak kita pada level immamahtuddien, sehingga mereka layak untuk memimpin masyarakatnya.

Kedua, menurut ahli tafsir Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Ia mengatakan  bahwa kata  ‘imam’ itu akar katanya dari kata ‘amma ya um’, yaitu salah satu maknanya adalah ‘pola’. Pola itu seperti  pola jahitan baju.  Jika penjahit  hanya membuat satu baju, maka kita tidak perlu membuat pola bajunya. Namun jika ingin membuat baju yang banyak dengan model dan ukuran yang sama, maka perlu dibuatkan pola jahitan sehingga bisa dibuat berulang-ulang untuk membuat atau produksi baju tersebut.

Oleh sebab itu, orang yang layak menjadi imam (pemimpin) jika dirinya sudah jadi pola buat masyarakatnya. Seperti itulah didikan besar Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam kepada sahabatnya, karean Rosul menjadi ‘pola’ untuk para sahabatnya.

Orang yang belajar melihat ‘pola’ lebih gampang dibandingkan hanya belajar teorinya saja. Misalnya seperti orang yang akan menjahit, jika diberikan ‘pola baju’ (ukurannya, lingkarannya, bagian mana saja yang harus digunting), maka ia akan lebih mudah membuat baju dibandingkan hanya diberikan teorinya saja (tanpa polanya).

Jika pemimpinnya jadi pola, maka orang lain akan mudah menirunya. Itulah yang menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan Rasul dan para sahabatnya. Karena dalam mendidik para sahabatnya, Nabi tinggal membuatkan polanya sehingga para sahabat tinggal menirunya.

Misal sahabat melihat bagaimana ibadahnya Nabi, yang ketika dalam beribadah tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Sahabat melihat keberanian Nabi dimedan jihad, sampai mereka mengatakan bahwa Nabi adalah orang yang paling dekat dengan musuh, hingga jika keadaan paling kritis, para sahabat berlindung  dibalik punggung Nabi SAW.  Ketika sahabat tidak kuat saat menggali batu pada perang khadaq,  maka Rosul dapat menghancurkan batu tersebut dengan tiga kali pukulan kampak. Sewaktu masyarakat lapar kemudian mengikatkan batu untuk mengganjal di perut mereka, ternyata Nabi mengganjal perutnya dengan dua batu.

Apa yang dilihat para sahabat dari Nabi SAW, menjadi pola bagi mereka.

Sumber gambar: pinteresst.eu

Bersambung …


Sumber: Menyiapkan Generasi Pemimpin oleh Ustadz Budi Ashari, LC

(https://www.youtube.com/watch?v=HXO-TyDOJck)

Leave a Reply