Mempersiapkan Generasi Pemimpin (2)

Yang menjadi pertanyaan tentang Abu Dzar adalah:

Kenapa Abu Dzar dilarang mengurusi harta anak yatim?

Bukan karena Abu Dzar tidak amanah, menurutnya, mengacu pada  Hadist Nabi SAW: “Andai kalian itu tawakalnya benar kepada Alloh, maka kalian akan diberikan Alloh rizki sebagaimana Alloh memberikan rizki pada burung ketika pagi hari keluar perutnya kosong dan ketika sore hari perutnya sudah penuh.”

Menurut Abu Dzar, orang tidak perlu khawatir soal rizkinya asalkan tawakalnya benar. Tidak perlu sampai menyimpan-nyimpan harta, karena besok toh Alloh akan memberikan rizki lagi.

Oleh karena itu mengapa Abu Dzar tidak cocok untuk mengurusi harta anak yatim.  Sehingga seandainya beliau diberikan amanah mengurusi harta negara, tentu saja akan langsung dihabiskan seluruhnya (disalurkan kepada yang berhak), karena besok akan tawakal kembali.

Apa hubungannya antara kepemimpinan dengan mengurusi harta anak yatim?

Ketika Umar bin Khattab berpidato resmi setelah dibaiat menjadi kholifah, beliau mengatakan: “Saya posisikan diri saya terhadap harta negara, seperti saya mengasuh harta anak yatim.”

‘Anak yatim’ tersebut diibaratkan seperti didalam masyarakat ada anak-anak yatim, orang-orang tidak mampu, lemah, dan miskin yang perlu dijaga masa depannya (hartanya).

Seandainya para pemimpin dinegeri ini bersikap sama seperti para sahabat, tentu maka mereka tidak akan berbuat dzolim, seperti korupsi, mengambil sumbangan atau bantuan untuk orang miskin.

3). Ada yang bisa menjadi pemimpin tetapi harus belajar dan berlatih agar layak menjadi pemimpin.

Didalam salah satu ceramah Syekh Dr. Munir Muhammad Al Ghadhban, beliau mengatakan bahwa kurang lebih 3/4 sahabat nabi itu rata-rata berumur 20 tahun.

Ibukota pertama muslimin, yaitu Madinah, yang pertama kali ‘membuka’nya adalah Mus’ab bin Umair bersama sahabat mulia As’Ad bin Zurarah (orang madinah yang telah masuk islam di tahun 10 kenabian yang mengikuti baiat 1 & 2 ).

Mus’ab bin Umair yang berperan memiliki ilmu dan menyampaikan islam sedangkan As’Ad bin Zurarah yang berperan memiliki link, strategi, dan pemetaan di Madinah.

Ketika Usaid bin Hudair datang sambil membawa tombak hendak mengusir Mus’ab dan As’Ad, karena merasa terganggu dengan keberadaan mereka di Madinah, maka Mus’ab dengan tenang mengatakan kepada Usaid, “jika Anda mau, Anda duduk, kita bicara. Jika apa yang saya bicarakan Anda ridho, alhamdulilah.. jika tidak, saya pergi.”

Kemudian Usaid setuju dan dilanjutkan dengan mendengarkan penjelasan Mus’ab kepadanya tentang ayat-ayat Alquran & tentang islam. Setelah dijelaskan, berubahlan raut muka Usaid, kemudian mantap bersyahadat.

Kita bisa lihat betapa kuatnya jaman dulu, orang mukmin yang mengajak orang kafir langsung masuk islam.

Begitu masuk islam, Usaid bin Hudair mengatakan kepada Mus’ab, bahwa dimasyarakat Madinah ini ada orang, yang jika berhasil mengislamkan dia, maka masuk islamlah negeri ini. Kemudian Usaid membuat strategi untuk mempertemukan Mus’ab dengan orang yang ia maksud, yaitu orang yang telah mengutus Usaid untuk mengusir Mus’ab.

Ia adalah Saad bin Muadz yang meninggal 5 H, dimana Rosulluloh SAW mengatakan: “Bergetar Arsy Alloh yang Maha Rahman karena meninggalnya Saad bin Muadz.

Saad bin Muadz sengaja mengutus Usaid bin Hudair karena merasa tidak enak dengan As’ad bin Zurarah yang merupakan sepupunya sendiri.

Ketika Usaid bin Hudair pulang menghadap Saad bin Muadz, raut muka Usaid sudah berubah. Dia berangkat dengan wajah yang berbeda dengan saat dia kembali. Dan orang-orang yang bersama dengan Saad menerka bahwa perubahan raut muka tersebut karena Usaid telah masuk Islam.

“Bagaimana, Usaid?”, Saad bin Muadz bertanya.

Usaid menjawab, “Tenang saja, Saya sudah berbicara dengan mereka. Namun bukan itu masalahnya. Masalahnya, sepupumu, Sa’ad diancam mau dibunuh oleh salah satu suku.”

Marahlah Sa’ad. “Siapa suku itu?”

Kemudian berangkat Sa’ad bin Muadz dengan membawa senjata dan ditemuinya As’ad bin Zurarah untuk memastikan keamanan sepupunya itu. Begitu sampai, malah dijumpainya As’ad sedang asyik berbincang dengan Mus’ab. Saat itulah Sa’ad menyadari bahwa ia telah dijebak oleh Usaid. Kemudian Sa’ad pun langsung mengusir Mus’ab, namun oleh Mus’ab dipersilahkan untuk duduk seperti halnya yang ia katakan sebelumnya kepada Usaid.

Setelah mendengarkan penjelasan Mus’ab bin Umair, maka masuk islamlah Sa’ad bin Muadz. Hal ini menunjukkan bahwa, Nabi Muhammad SAW tidak pernah salah memilih orang (Mus’ab bin Umair) sebagai duta pertama islam ke Madinah.

Begitu masuk islam, Sa’ad bin Muadz mengumpulkan masyarakatnya dan berbicara kepada mereka: “Menurut kalian, saya ini siapa?”

Masyarakatnya mengatakan bahwa Sa’ad pemimpin kami, orang terbaik kami, orang yang kalimatnya kami dengar.

Kemudian Sa’ad bin Muadz berkata, “Baik. Mulai hari ini saya haram bicara dengan kalian, sampai kalian mau bersyahadat.”

Maka bersyahadatlah masyarakatnya. Merunut pada peristiwa ini, Itulah mengapa Nabi SAW menyebutkan mengenai Sa’ad bin Muadz  dengan “bergetarnya Arsy Alloh.”

Bersambung …


Sumber: Menyiapkan Generasi Pemimpin oleh Ustadz Budi Ashari, LC

(https://www.youtube.com/watch?v=HXO-TyDOJck)

Leave a Reply