fbpx

Mempersiapkan Generasi Pemimpin (1)

Rosulluloh SAW mengajari para sahabat tidak untuk menjadi pengikut, namun untuk menjadi pemimpin.

Saat ini kaum muslimim kehilangan kepemimpinan dimuka bumi sejak kesultanan terakhir Turki utsmani, dibawah Sultan Abdul Hamid II yang saat itu memimpin sampai ke tiga benua.

Padahal muslimin itu mengajarkan kepada semua peradaban yang hidup pada masa sekarang ini: seperti mengajari cara hidup, mendidik generasi, menyiapkan mereka untuk mengurusi bumi ini.

Karena saat ini bukanlah kaum muslimin yang mengurusi bumi, maka bisa kita lihat bahwa kondisi bumi disemua bidang kehidupan saat ini bermasalah.

Bicara tentang pangan, masalah. Bicara tentang udara, masalah. Bicara tentang teknologi, beresiko tinggi. Bicara tentang apapun, bermasalah.

Oleh karena itu kita perlu menyiapkan generasi setelah kita, agar anak-anak kita untuk menjadi pemimpin.

Jika ingin mendidik anak kita, maka berlajarlah hanya kepada Rosulluloh SAW.

Hari ini para ahli islam mulai banyak berkonsentrasi dalam menulis tentang kepemimpinan, termasuk At Tarbiah Al Qiadiyah (pendidikan kepemimpinan), diantaranya adalah Syekh Dr. Munir Muhammad Al Ghadhban. Beliau adalah dosen di Universitas Ummul Quro, Mekah, yang menulis serial buku tentang bagaimana Rasul mendidik sahabatnya menjadi pemimpin.

Para ulama berbeda pendapat tentang berapa jumlah sahabat Rosulluloh SAW. Namun demikian, disimpulkan jumlah mereka berkisar antara 110rb – 120rb orang, mulai dari sahabat yang sehari-harinya dekat bersama Nabi SAW, atau hidup berpuluh tahunan bersama Nabi SAW, ada pula sahabat yang hanya sekali berjumpa dengan Nabi SAW.

Menurut Syekh Dr. Munir Muhammad Al Ghadhban diantara sejumlah para sahabat tersebut, Rosulluloh SAW meninggalkan sebanyak dua ribu orang yang menjadi pemimpin.

**

Rosul wafat tahun pada tahun 11 H, dimana negara (kepemimpinan tertinggi) terakhir dipimpin oleh sahabat mulia Muawiyah hingga tahun 60 H, yang sebelumnya dimulai dari kepemimpinan Abu Bakar.

Dari masa Abu Bakar sampai Muawiyah, Wilayah bimbingan para sahabat membentang mulai dari jazirah arab (sejak Rosulluloh SAW/Abu Bakar), Persia, Irak, Syam, Mesir, Libiya (pada masa Umar bin Khatab), dan kemudian meluas lagi di jaman Ustman bin Affan & kemudian dilanjutkan Muawiyah sampai ke asia.

Menurut Imam Nasa’i, dari dua ribu pemimpin sepeninggalan Nabi SAW tersebut, mereka dikawal oleh para ahli ilmu dikalangan para sahabat sejumlah 21 orang, dimana para ahli ilmu itu mencapai derajat mujtahid (level tertinggi).

Satu orang ahli ilmu cukup untuk mengcover satu kota pada jaman itu. MIsalnya Abdullah bin Mas’ud di Kuffah, Abu Musa al Ash’ari di Basroh, Zaid bin Tsabit di Madinah, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di Syam, ada sahabat mulia Muawiyyah, dan sahabat mulia Mu’ad. 

Ketika Umar bin Khattab  membuka (membebaskan) suatu wilayah (kedalam kekuasaan Islam), beliau selalu mengirimkan satu paket utusan yang terdiri dari tiga orang yakni satu pemimpin, satu ahli ilmu (guru), dan satu imam.

Pada dasarnya, manusia dan kepemimpinan itu terbagi menjadi 3, yakni:

1). Ada orang yang sejak lahir, ia pantasnya hanya menjadi pemimpin. Contohnya adalah sahabat mulia Ammar bin Ash. Umar bin Khattab bersaksi bahwa negeri manapun yang Ammar bin Ash masuki, maka ia pantas menjadi pemimpin.

2). Ada orang yang tidak boleh menjadi pemimpin. Contohnya adalah sahabat mulia Abu Dzar al Ghifari. Menurut Rosulluloh SAW Abu Dzar itu ‘lemah’dan tidak diperkenankan mengurusi harta anak yatim.

Ia dianggap ‘lemah’ bukan karena lemah pemahaman kita saat ini (misal lemah fisiknya, akalnya, amanahnya, ibadahnya, atau akidahnya) namun karena menjadi pemimpin tidak cukup dengan kesholehan, namun harus memiliki seni dalam berinteraksi dengan orang lain.

Kesholehan Abu Dzar tidak perlu dipertanyakan lagi, salah satunya adalah beliau sangat tidak minat atau gelisah atau risih masalah urusan dunia. Namun membicarakan masalah kepemimpinan atau kekuasaan tentu saja perlu mengurusi urusan dunia yang bisa dihubungkan dengan akhirat.

Bersambung …


Sumber: Menyiapkan Generasi Pemimpin oleh Ustadz Budi Ashari, LC

(https://www.youtube.com/watch?v=HXO-TyDOJck)

Leave a Reply