fbpx

Bagaimana Cara Kita menjadi Magnet Rezeki (2)

3) Analogi Paradox of Candy

Sumber gambar: rd.com

Ketika ada orang yang memberikan permen untuk kita, tentu kita memilih permen yang ada bungkusnya dibandingkan sebaliknya. Setelah permen dibuka, baru kemudian bungkusnya dibuang. Pada saat kita meminta air minum, tidak hanya air saja yang diberikan, namun disertai dengan gelasnya. Sama seperti halnya rezeki itu yang ‘dibungkus’ dengan hal lain, dimana rezeki itu adalah ‘permennya’ sedangkan ‘bungkusnya’ adalah ‘ujian atau musibah’. Misal kita mengalami kebangkrutan atau rumah/barang kita dicuri, bisa jadi musibah tersebut menjadi rezeki untuk kita. Namun sering kali kita sendiri tidak menerima rezeki tersebut. Terima saja dahulu ‘bungkusnya’ yaitu ujian atau musibah yang kita alami, bisa jadi ada kebaikan didalamnya (permen atau rezeki).

Oleh karena itu, cara yang harus kita lakukan ketika dimasa yang akan datang kita mengalami ujian atau musibah (paradox of candy) adalah:

  1. Memperbesar kapasitas diri. Sebagai contoh, ketika kita punya uang 1 miliyar, apakah uang tersebut jumlahnya besar atau tidak? Jika kita punya hutang 1 miliyar, sedangkan punya penghasilan 3 miliyar, maka hutang 1 miliyar tersebut tidak akan menjadi masalah. Ketika kita bertemu dengan orang yang punya masalah besar, namun ia bisa menghadapi masalah tersebut dengan biasa saja, karena kapasitas dirinya sudah besar. Sebaliknya, ketika kita tidak mampu menghadapi masalah yang kita hadapi, bisa jadi kapasitas diri kita yang masih rendah. Jika ada orang yang phobia dengan kecoa dan ia sedang berada di ruangan kecil, maka kecoa tersebut akan menjadi menakutkan. Berbeda jika ia sedang berada di lapangan sepak bola, tentu kecoa tersebut tidak menjadi masalah lagi. Jadi tugas kita sesungguhnya bukan menyingkirkan ‘masalah’ yang ada, namun perbesarlah kapasitas diri kita, dengan cara terus belajar setiap hari, tentang keilmuan, spiritual, pengembangan diri, tentang bisnis, tentang karir, maupun lainnya.
  2. Pasrah atau berserah diri. Jika kita memiliki masalah yang besar atau kebangkrutan yang banyak, maka biarkan masalah tersebut terjadi pada kita,  jangan pernah membawa-bawa keluarga (anak-istri) kita. Kita boleh kehilangan seluruh harta kita, namun kita jangan kehilangan kehidupan kita. Maka lepaskan beban tersebut dan pasrah atau berserah diri kepada Alloh. Jika kita memegang handphone dengan tangan kedepan selama beberapa menit, bisa jadi belum masalah, namun jika kita memegangnya berjam-jam, maka handphone terasa berat. Jika handphone diibaratkan sebegai masalah, maka masalah akan terasa berat jika terus menerus ‘digenggam’ (dipikirkan).  Ketika kita punya banyak hutang, maka bayarlah hutang tersebut. Tidak perlu dipikirkan terus menerus hutangnya, tapi cari kerja untuk membayarnya. Jika kita memiliki masalah atau ujian, maka lepaskanlah dan kemudian berprasah kepada Alloh.
  3. Meyakini bahwa skenario Alloh itu indah. Kita tidak tahu masa depan kita seperti apa, namun yakinlah apapun yang terjadi pada kita hari ini, itu adalah yang terbaik untuk kita. Ketika Kang Dewa mengalami sakit parah, pedahal sebelumnya jarang sakit sedangkan makanan selalu terjaga, dan olah raga sering dilakukan, timbul pertanyaan kenapa bisa terjadi (sakit)? Ternyata inilah skenario yang Alloh ciptakan untuk menceritakan kisah Kang Dewa kepada orang lain agar lebih berpasrah kepada Alloh, dengan membuat novel yang telah menjadi best seller dan rencananya akan difilmkan. Seandainya tidak ada kejadian ‘sakit’ tersebut, maka cerita dalam film itu tidak akan menarik.

4) Analogi Terumbu Karang

Sumber gambar: bbcamerica.com

Setiap dari kita ini sudah punya rezekinya masing-masing. Misal ikan, tepat rezekinya ada di daerah terumbu karang, jerapah rezekinya di pohon (ranting-ranting),  sapi dan kerbau rezekinya di rumput. Permasalahannya adalah, dimanakah rezeki kita (manusia)? Rezeki manusia itu sebenarnya tempatnya ada di manusia juga. Alloh memberikan rezeki, wasilahnya kepada manusia. Ketika kita digaji, atau memiliki proyek dengan orang lain, maka bertemunya dengan manusia juga.

Ketika ikan tidak pernah merusak terumbu karangnya dan jerapah tidak merusak rantingnya sebagai sumber rezekinya, namun manusia sering merusak atau ‘hati’ orang lain, pedahal wasilah rezeki kita itu didatangkan kepada manusia. Jika kita punya masalah dengan orang lain, mari kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Namun sebaliknya, ketika ada orang yang punya salah dengan kita, maka yang harus kita lakukan adalah:

  1. Memaafkan kepada orang-orang yang pernah menyakiti kita. Jika kita punya salah dan meminta maaf, maka itu adalah hal yang wajar yang kita lakukan. Namun memberi maaf kepada orang yang punya salah kepada kita, itu adalah hal yang berat dan cukup menantang.
  2.  Sering melakukan sholat hajat dengan mendoakan orang tersebut, agar hati kita menjadi tentram.
  3. Berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakan mereka (orang yang telah menyakiti kita) maupun kepada orang lain. Ubahkan gesture meskipun kita dalam keadaan terpuruk. Misal saat kita punya hutang yang banyak atau kondisi sedang terpuruk, kadang gesture kita seperti orang yang lemas dan meminta-minta. Namun yang harus kita lakukan adalah buat gesture kita seperti orang yang kuat, dan menawarkan bantuan atau membuat kerjasama (bersinergi).

5) Analogi Teori Kupu-kupu

Sumber gambar: dbg.org

Saat kita menyukai kupu-kupu, maka kita akan mengejar, menangkap dan menyimpannya. Jika kita ingin menghadirkan kupu-kupu dalam jumlah yang banyak, tugas kita adalah memperbaiki taman dan membuatnyanya menarik, agar kupu-kupu datang dengan sendirinya.  Taman itu ibarat diri kita, maka perbaikilah diri kita kepada sesama manusia dan kepada Alloh.

Cara merawat ‘taman’ tersebut adalah agar kupu-kupu (rezeki) datang:

  1. Dengan cara berprasangka baik dan selalu berpikir positif. Apapapun yang terjadi dalam diri kita, itu yang terbaik untuk kita.
  2. Ketika dalam merawat taman diperlukan pupuk, dimana pupuk itu bau dan tidak enak, tapi pupuk itu akan menumbuhkan tanaman yang ada dalam taman tersebut.  Pupuk itu ibarat kritikan, cacian, makian untuk kita, namun insya Alloh akan ‘menumbuhkan’ diri kita. Ketika kita dipuji, sebaiknya waspada agar kita tidak menjadi sombong.
  3. Hadir ke majelis ilmu, sehingga ‘taman’ kita senantiasa terawat dengan baik dan jangan membiarkan unsur-unsur negatif agar tidak merusak taman tersebut.

Sumber: Bagaimana Menjadi Magnet Rezeki – Dewa Eka Prayoga

( https://www.youtube.com/watch?v=Pd5CkWc5STQ )

Leave a Reply