Bagaimana Cara Kita menjadi Magnet Rezeki (1)

Sumber gambar: mommylovesbaby.eu

Materi ini didapatkan dari seorang sahabat dan guru, yaitu Ust. Nasrulloh. Beliau punya konsep bagaimana cara kita sebagai seorang individu muslim bisa menjemput rezeki dengan cara yang luar biasa dan cara yang tidak biasa.

Sebagaimana namanya, magnet itu menarik hal-hal yang bersifat besi. Begitupun rezeki.

Sebenarnya kita semua dalam hidup ini sudah ditetapkan rizkinya masing-masing. Kabar baiknya, rezeki itu diberikan dalam jumlah yang banyak. Misal rezeki kesehatan, rezeki keturunan, rezeki rumah tangga (sakinah, mawardah, warohmah), rezeki pekerjaan yang dapat menafkahi keluarga, dan lainnya.

Jika kita perhatikan, kenapa ada orang-orang yang mendapatkan rezeki harta yang banyak, ada pula yang sedikit, padahal kita semua diciptakan dalam kondisi yang sama. Sama-sama dari Alloh, kenapa mendapatkannya berbeda-beda.

Bahkan sebagian dari kita, hidupnya dengan bekerja dari jam 5 pagi sampai jam 5 sore dengan penghasilan yang biasa saja, namun ada orang yang bekerjanya hanya satu jam dalam sehari  dan memperoleh penghasilan yang luar biasa. Mengapa demikian?

Jika kita melihat sejarah, sahabat Rosul SAW seperti Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf adalah para sahabat yang sangat kaya luar biasa. Dengan kekayaan yang mereka miliki, mereka mampu menjadikan hartanya untuk berbuat kebaikan.

Masalah di kita sekarang adalah, setiap kali kita ingin mendapatkan harta yang lebih, kita sering mendapatkan kesulitan, pedahal sudah kerja keras dan banting tulang, namun mendapatkan hasil yang itu – itu saja. Apalagi saat ini ditambah kondisi kita yang punya masalah, seperti cicilan rumah belum selesai, cicilan mobil belum selesai, cicilan motor belum selesai, belum lagi masalah di kantor yang banyak sekali dan luar biasa parahnya, yang kadang kala kita protes atau mengeluh kepada Alloh.

Pada prinsipnya, Alloh SWT itu memberikan rezeki untuk manusia itu banyak sekali, yang banyaknya diibaratkan ‘banjir rezeki’. Namun masalah terbesarnya adalah kita sendiri yang tidak menerima rezeki itu dengan baik dan bahkan kita sering mengabaikannya.

Berikut ini beberapa analogi cara menerima rezeki dengan benar.

1). Analogi Perisai (tameng) Rezeki

Seringkali Alloh itu memberikan rezeki yang banyak, namun kita sendiri yang menghalangi rezeki itu dengan perisai.  Perisai rezeki yang dimaksud adalah dosa kita. Dosa kita sendiri yang menghambat rezeki itu untuk datang. ‘Seorang manusia terhalang rezeki nya karena dosa yang diperbuatnya.’ Oleh karena itu, jika ingin agar Alloh melimpahkan rezeki yang banyak, maka hilangkanlah perisai atau dosa-dosa dalam diri kita, dengan cara (1) memperbanyak istigfar setiap hari disetiap saat; (2) memperbanyak tobat; (3) menjauhi maksiat (misal menyekutukan Alloh, durhaka kepada orang tua, berbuat riba, berbuat zina).

2). Analogi Hukum Proyektor (Law of Projection)

Proyektor atau infocus akan memancarkan cahaya kearah layar menghasilkan gambar. Seringkali dalam hidup ini yang ingin kita ubah itu adalah ‘layar’nya, padahal sumber masalah itu ada di filmnya/laptopnya/kasetnya.  Analogi ini menunjukkan bahwa perbuatan itu ditentukan oleh pikiran kita. Oleh karena itu, ubahlah mindset kita, maka akan berubah pula nasib kita.

Cara memiliki law of projection adalah:

(1) perbaikilah mindset kita, karena mindset akan menentukan believe (keyakinan) kita,  believe kita akan menentukan action (perbuatan) kita, dan action kita akan menentukan nasib kita, kemudian kembali lagi bahwa nasib akan menentukan mindset kita (berputar/cycle). Dengan demikian, jika kita ingin mengubah nasib, maka ubahlah mindset kita.

Nah, sekarang bagaimana cara memperbaiki mindset kita?

  1. Informasi yang masuk kedalam pikiran kita, misal dari buku/status facebook/whatssap yang kita baca, audio yang kita dengan, film yang kita tonton, itu semua informasi yang akan masuk kedalam pikiran kita. Maka dari itu, jagalah dengan hati-hati semua informasi yang kita dapatkan karena akan membentuk mindset kita.
  2. Figure (sosok) yang kita idolakan, bisa ustadz, tokoh, artis, orang tua atau lainnya. Apa yang mereka (figure) itu ucapkan bisa jadi benar, namun bisa jadi bahaya jika sebaliknya, yang nantinya akan mempengaruhi mindset kita.
  3. Repetisi (pengulangan) dari poin a (informasi) dan b (figure). Misal ada orang yang mengatakan: “Kamu bisa jadi pengusaha.” Tapi adapula orang yang mengatakan: “Kamu tidak mungkin bisa atau tidak bakat atau tidak punya turunan jadi pengusaha.” Apapun yang diucapkan orang lain kepada kita, baik yang postif maupun negatif, maka informasi tersebut akan menjadi keyakinan dan akhirnya membentuk mindset kita. Jika kita mempercayai hal yang negatif, maka setiap kali kita mau action, kita akan selalu takut gagal, takut mencoba, takut miskin, dan serba ketakutan lainnya. Oleh sebab itu, karena kita sudah tahu ilmunya, maka kita dapat menyaring informasi yang positif untuk kita masukkan ke alam bawah sadar kita.

(2) Cara memiliki law of projection yang kedua adalah ‘mengubah responnya’.

Ini tentang pengalaman saat Kang Dewa ‘jatuh’ yaitu bangkrut ditipu orang lain (pengadaan laptop/investasi bodong) sebesar 7.7 miliyar setelah 18 hari menikah. Orang-orang terdekatnya malah menyalahkan istrinya karena kasus ini. Namun Kang Dewa hanya mengubah perkataan mereka dengan merespon: “Alhamdulilah ya Alloh, saya dibangkrutkan sekarang. Seandainya saya dibangkrutkan 30 bulan kemudian, mungkin kerugian saya menjadi 80 miliyar. Terima kasih ya Alloh, saya sudah diingatkan dari sekarang.”

Semua kehidupan kita saat ini sebenarnya dalam kondisi netral, tergantung bagaimana kita meresponnya. Misal ketika kita dalam kondisi macet, kita bisa saja merespon dengan mengeluh dan marah-marah, namun bisa pula memanfaatkan waktu dengan menghapal ayat alQuran, atau mendengar audio, atau buka status di facebook dengan jualan. Adapula kejadian ketika sedang dijalan menyetir kendaraan, kemudian tiba-tiba ada motor yang melintas dengan ngebut, tentu dengan spontan kita akan marah-marah. Namun beberapa kilometer kemudian, pada saat di tempat yang sama di rumah sakit, kita melihat ada motor yang sama saat ngebut tadi, yang ternyata orang tersebut sedang buru-buru mengejar ambulan yang ada di depannya karena istrinya kecelakaan.

Oleh karena itu, setiap ada kejadian negatif dalam keseharian kita, mari kita berlatih dengan langsung mengubah respon kita menjadi positif (berprasangka baik).

(3) Cara memiliki law of projection  yang ketiga adalah ‘mengubah kata yang sering kita gunakan’.

Membiasakan diri dengan mendisiplinkan kata yang sering kita ucapkan. Misal kata-kata yang sering keluar pada saat kita menghadapi kesulitan adalah kata-kata negatif dan tidak memberdayakan, misalnya: “Duh, pusing banget sih.. stress nih, aku mah gaptek..”. Dengan demikian, ubah kata ‘sulit’ dengan ‘menantang’, ubah kata ‘pusing atau sress’ dengan ‘menarik juga ya’, ubah kata ‘masalah’ dengan ‘tantangan’, ubah kata ‘gaptek’ dengan ‘saya harus sabar dalam belajar’, ubah kata ‘hutang’ dengan ‘amanah’. Maka dengan membiasakan dengan berulang respon postif tersebut akan menjadikan diri kita lebih berdaya.

Mengubah kata berarti mengubah nasib.

Ada pelajaran agar berhati-hati menggunakan kata-kata. Pada waktu tiga bulan sebelum Kang Dewa sakit, Kang Dewa menemui gurunya ketika sedang sakit parah (stroke) di rumah sakit. Saat itu Kang Dewa mengatakan pada istrinya, kalau seandainya ia sakit seperti kawannya (gurunya), maka apa yang akan istrinya lakukan? Dan yang terjadi adalah setelah tiga bulan kemudian, Kang Dewa terkena sakit parah (penyakit saraf tepi).

Sumber gambar: dailymoslem.com

Bersambung …


Sumber: Bagaimana Menjadi Magnet Rezeki – Dewa Eka Prayoga

( https://www.youtube.com/watch?v=Pd5CkWc5STQ )

Leave a Reply